SUBPRIME MORTAGE 2008


Pada akhir tahun 2008 lalu seluruh penduduk dunia tercengang dengan terjadinya krisis di Amerika Serikat. Betapa tidak, negara adidaya yang menjadi kiblat perekonomian oleh negara-negara dunia ketiga itu harus menghadapi ‘momok’ yang bernama krisis juga. Terlebih lagi negri Paman Sam merupakan pasar ekspor yang cukup besar bagi negara-negara lain seperti Indonesia, India dan Cina. Dengan adanya krisis di negara tersebut, secara otomatis akan berdampak besar bagi perekonomian negara-negara yang menggunakan Dollar dalam transaksi ekspor-impor, juga bagi yang menggunakan mata uang seperti Euro, Yen, dan lain sebagainya.

Awal Mula dan Sebab Krisis Terjadi

Sifat tamak para bankir dan sifat komsumtif yang dimiliki sebagian besar warga Amerika adalah sebab dari krisis subprime mortage ini. Istilah Kata ”mortgage[1]” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Dalam mortgage, seseorang memperoleh kredit. Lalu, ia memiliki rumah. Rumah itu ia serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Ia boleh menempatinya selama cicilannya belum lunas. ­­­­

Sejak sebelum tahun 1925, di Amerika Serikat sudah ada Undang-undang Mortage. Semua warga Amerika yang telah memenuhi syarat tertentu (rating 600 keatas), dapat memperoleh mortgage (anggap saja seperti Kredit Kepemilikan Rumah). UU ini mengetatkan syarat bagi orang yang ingin mendapatkan mortage. UU ini juga secara tak langsung membuka peluang bagi bank untuk mendapatkan bunga tambahan dari pengkreditan itu. Namun peluang itu semakin berkurang ketika semua individu sudah memiliki rumah masing-masing.

Pada tahun 1986 pemerintah Amerika kembali membangun sifat komsumtif warganya dengan menetapkan Reformasi pajak yang salah satu isinya : Pembeli Rumah diberi keringanan pajak. Keringanan fasilitas pajak tersebut meningkatkan gairah bisnis perumahan secara drastis pada tahun 1990. Dan gairah bisnis perumahan ini terus meingkat sampai 12 tahun berikutnya. Kredit mortgage ini yang biasanya berjumlah USD 150 miliar pertahun langsung menigkat tajam dua kali lipat pada tahun berikutnya. Bahkan jumlahnya terus menigkat beberapa tahun kemudian dan bahkan pada tahun 2004 mencapai hampir USD 700 miliar pertahun.

Para kreditur bisnis perumahan seperti Lehman Brothers, Bear Stern, Fanny Mae dan banyak lagi adalah jenis perusahaan-perusahaan investment banking. Investment banking adalah perusahaan keuangan seperti bank, tetapi lebih bebas dan tidak terikat dengan peraturan bank. Fleksibelitas dan kebebasan yang dimiliki perusahaan-perusahaan investment banking membuat ia lebih agresif dalam memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apapun. Jika dulu hanya orang-orang yang sudah memenuhi persyaratan tertentu (prime) yang dapat memperoleh mortgage, kemudian ternyata orang-orang yang kurang memenuhi syaratpun (sub-prime) dirangsang untuk mengambil mortgage.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun, banyak konsumen (sub-prime) yang mengalami gagal bayar alias macet. Akibatnya, rumah yang disitapun semakin banyak. Rumah yang dijualpun semakin banyak jumlahnya. Semakin banyak orang yang menjual rumah, dan akibatnya harga rumah semakin turun. karena harga rumah yang semakin menurun, berarti nilai pinjaman rumah tersebut semakin tidak cocok dengan nilai pinjaman yang telah dikeluarkan perusahaan. Dan itu berarti semakin banyak yang gagal bayar. Bank atau investment banking yang memberi pinjaman juga telah menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain, Roboh semua

Teori Pakar Klasik J.B. Say

Jean Baptist Say adalah seorang pakar ekonomi kelahiran Perancis yang berasal dari keluarga saudagar dan menjadi pendukung pemikiran yang dipaparkan oleh Adam Smith.

Dalam karyanya Traite d’Economie politique[2], kerangka dasar pemikiran mazhab klasik disusun secara sangat sistematis dan dibentangkan dengan jelas. Dengan begitu karya Say tersebut juga menjadi buku standar yang pengaruhnya sangat meluas di zamannya dan amat membantu dalam menjabarkan pemikiran-pemikiran yang mula-mula diungkapkan oleh Adam Smith beberapa puluh tahun sebelumnya.

Kontribusi Say yang paling besar terhadap aliran klasik ialah pandangannya yang mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri (supply creates its own demand)[3]. Pendapat Say di atas disebut Hukum Say (Say’s Law). Hukum Say didasarkan pada asumsi bahwa nilai produksi selalu sama dengan pendapatan. Setiap ada produksi, akan ada pendapatan yang besarnya sama persis dengan nilai produksi tadi. Dengan demikian, dalam keadaan seimbang produksi cenderung menciptakan permintaannya sendiri akan produksi barang yang bersangkutan.

Ia menganggap bahwa peningkatan produksi akan selalu diiringi oleh peningkatan pendapatan, yang akhirnya akan diiringi pula oleh peningkatan permintaan. Jadi, dalam perekonomian yang menganut pasar persaingan sempurna tidak akan pernah terjadi kelebihan penawaran (excess supply).

Kritikan atas Teori Ini

Hukum Say di atas terbukti lumpuh ketika dihadapkan dengan terjadinya krisis sub-prime mortage pada tahun 2008 lalu di Amerika. Penawaran kredit rumah kepada orang-orang yang bahkan tidak memenuhi syarat (sub-prime) terus dilancarkan besar-besaran meski orang-orang tersebut telah memiliki sebuah rumah (Menawarkan untuk mengambil 2 rumah langsung). Sistem mekanisme pasar yang dipercaya menyerap produk (mortage) dalam jangka panjang (10 tahun) ternyata gagal dan tidak dapat menemukan titik equilibrium (keseimbangan). Walhasil, kredit macet pun menjadi konskwensi dari aktifitas (penawaran) tersebut yang berujung pada bangkrutnya beberapa perusahaan investment bank seperti Lehman Brother. Total kerugian yang ditaksir akibat krisis ini mencapai $5 triliun.

Tidak hanya berakhir disini, negara-negara lain pun ikut terkena imbasnya. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi tak terelakkan di negara yang sebagian besar pasar ekspornya adalah Amerika. Para Investor asing menarik uangnya dari pasar saham sehingga menyebabkan pasar modal anjlok.

Daftar pustaka

– Djojohadikusumo, Sumitro. 1991. “Perkembangan Pemikiran Ekonomi”. Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.

– Deliarnov. 2009. “Perkembangan Pemikiran Ekonomi”. Rajawali Pers : Jakarta.

http://www.jawapos.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: