Anomali Globalisasi


Awal Mula Globalisasi

Tidak ada definisi yang pas untuk mengurai arti dari globalisasi, tapi secara umum dapat dicerna sebagai berikut. Globalisasi dapat diartikan sebagai integrasi, interaksi dan hubungan antar bangsa dan antar manusia dalam hal perdagangan, perjalanan, budaya dan bahasa dalam suatu cakupan wilayah yang cukup luas bahkan dunia. Dalam sejarahnya, globalisasi telah berlangsung cukup lama. Tetapi kita baru mendengar banyak tentang globalisasi pada beberapa tahun terakhir yakni pada awal-awal abad 21 ini.

Terjadi beberapa perbedaan pendapat antara pakar tentang kapan proses globalisasi dimulai. Diantaranya   yaitu pendapat Robertson dan Held. Walaupun begitu, menurut pribadi penulis, globalisasi (walaupun belum mendunia secara keseluruhan) pertama kali terjadi ketika masa pemerintahan Kekhalifahan Islam, masa kedaulatan Bani Umayah, dan masa kedaulatan Bani Abbasiah. Pada ketiga masa ini terjadi interaksi antar manusia dan antar bangsa khususnya dalam hal budaya, bahasa, perdagangan dan ilmu pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi. Ekonomi dan perdagangan juga maju pesat. Sampai-sampai kota Baghdad menjadi  pusat kota perdagangan dan kebudayaan paling masyhur ketika itu. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pembangunan Baitul-Hikmah sebagai pusat penerjemahan perguruan tinggi dan perpustakaan besar. Kebanyakan objeknya adalah buku-buku Yunani. Tak heran jika pada masa Abbasiah muncul banyak ilmuan Muslim pakar dalam kedokteran, astronomi, mantiq dan filsafat.

Ulasan diatas memberikan kita pandangan bahwa berbicara masalah globalisasi tentu berbicara tentang berbagai aspeknya yang sangat luas. Namun dalam tulisan ini, penulis membatasi globalisasi dalam aspek ekonomi agar lebih fokus dan agar dapat lebih dicerna arti ‘anomali globalisasi’ itu sendiri.

Globalisasi Dalam Ekonomi

Globalisasi menurut ILO didefinisikan sebagai suatu proses bertumbuhnya saling ketergantungan antara semua orang di planet ini. Orang-orang secara bersama-sama terkait dalam ekonomi dan sosial oleh perdagangan, investasi dan pemerintahan. Interaksi ini didorong oleh liberalisasi pasar dan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Beberapa indikator untuk mengukur tingkat pertumbuhan globalisasi ekonomi yaitu Foreign Direct Investment (FDI), Foreign Portofolio Investment, perdagangan internasional (ekspor-impor), dan integrasi ekonomi regional.

Globalisasi yang didukung oleh liberalisasi pasar memungkinkan produk, jasa dan modal dari suatu negeri A (yang kelebihan modal) mengalir ke negeri B (yang membutuhkan modal) tanpa hambatan (no barrier). Hal ini disebabkan perekonomian internasional yang sudah terintegrasi. Sehingga peran negara dan pemerintahan setempat menjadi sangat minim. Terutama pada negara berkembang. Banyak opini berpendapat bahwa fenomena globalisasi lebih menguntungkan negara maju dan merugikan negara dunia ketiga.

Globalisasi dianggap sebagai gaya penjajahan baru atau bentuk lain dari imperialisme. Dianggap sebagai penjajahan karena negara berkembang harus mengikuti aturan main kelompok kapitalis yang lebih menguntungkan pihak mereka. Akhirnya negara dunia ketiga hanya menjadi sapi perah kaum pemodal. Dalam hal upah buruh, para pekerja dan buruh di negara berkembang dibayar murah. Sedangkan produknya (ex.Adidas, Nike, The North Face dll) dijual lebih mahal ke  konsumen-konsumen berkelas. Dalam hal perdagangan, negara maju lebih unggul dalam teknologi sehingga dapat memproduksi barang lebih efisien dengan kualitas bagus. Sedangkan bagi negara berkembang, teknologi dirasa mahal dalam harga sehingga mereka belum bisa memproduksi setingkat efiensi negara maju. Keabsahan Teori Comparative Advantage semakin dipertanyakan karena dianggap tidak dapat menerangkan secara jelas keuntungan yang dapat diperoleh masing-masing negara A dan B demi tercapainya kesejahteraan antar kedua negara itu. Dalam hal utang dan modal, negara berkembang harus memenuhi syarat dari negara maju. Kesepakatan itu nantinya tercantum pada Letter of Intent (LoI). Beberapa poin-poinnya diantaranya adalah liberalisasi pasar dalam negeri, privatisasi, dan pengetatan anggaran pemerintah.

Diatas terlihat sekali pendiktean negara maju terhadap negara berkembang. Dalam tekanan itu negara berkembang justru harus lebih bekerja keras dan lebih cerdas dalam menyikapi globalisasi. Sebenarnya globalisasi tergantung bagaimana kita memandangnya.

Anomali Globalisasi

Berikut tersedia data yang diambil dari IMF (International Monetary Financial). Kita akan mengupas lebih di titik mana anomali globalisasi terjadi. Beberapa negara yang menjadi sampel adalah Amerika Serikat, Uni-Eropa, China, Indonesia, Korea selatan, Brazil dan Afrika Selatan. Negara-negara tersebut adalah 7 anggota G20. Negara tersebut menjadi sample dari masing-masing benua. Indikatornya adalah Utang Pemerintah, GDP (Gross Domestic Product), tingkat pengangguran, dan BoP (Balance of Payment). Data diambil dari tahun 2005-2010. Agar lebih mudah dalam membacanya, penulis membagi tujuh negara menjadi dua bagian, negara maju (Blok Kuning) dan negara berkembang (Blok Biru) dalam tabel berikut.

Dari data diatas kita mengetahui bahwa nilai GDP negara maju lebih tinggi, tetapi  walaupun begitu pertumbuhannya tidak lebih baik dari GDP negara berkembang bahkan negatif. Tingkat hutang mereka juga hampir menyamai GDP yang dihasilkan. Tak heran jika dua kawasan ekonomi itu menjadi episentrum krisis finansial global pada 2008 dan Oktober 2011. Lalu pertanyaannya, Lho kok bisa negara dengan GDP tinggi tapi tingkat hutangnya juga menggunung.? Katanya negara maju, kok bisa kena krisis.?

Jawabannya adalah karena mental Corrupt yang melekat pada negara tersebut. Sifat konsumtif warganya, Good Governance dalam pengelolaan hutang pinjaman yang tidak diterapkan menjadi penyebab utama krisis. (Dan karena ekonomi internasional sekarang sudah menjadi ekonomi yang terintegrasi, maka dampak krisis itu juga berpengaruh terhadap perekonomian dunia terutama pada perekonomian negara-negara berkembang. Oleh karena itu, negara yang menjadi sumber krisis selalu mendapatkan tekanan dari pasar untuk segera mengambil langkah demi menenangkan pasar.)

 Mengapa krisis pada Oktober lalu familiar disebut dengan debt crisis.? Karena akumulasi hutang eropa yang tingkat defaultnya tinggi, sehingga terancam gagal bayar dan menimbulkan kepanikan pasar. Inilah sifat anomali globalisasi yang dimaksud. Bagi negara corrupt dalam kebijakan ekonominya, globalisasi bisa menjadi bumerang. Tetapi ia juga bisa menjadi angin segar bagi negara yang menerapkan Good Governance dalam kebijakannya. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: