Ekonomi VS Keuangan


Para pembaca pasti sering mendengar dua kata di atas, baik secara terpisah atau saling bersanding dua-duanya dalam suatu  phrase. Sebagai contoh,  diberbagai media banyak yang mengiklankan jasa konsultasi keuangan untuk keluarga dan perusahaan (walau saya belum pernah menemukan konsultasi ekonomi). Dalam birokrasi pemerintahan juga berbeda istilah dalam 2 kementrian; menteri ekonomi dan menteri keuangan. Negara tetangga, Malaysia, mempunyai visi menjadi pusat Islamic Finance di asia, atau bahkan di dunia (tapi kok saya belum menemukan negara Islam yang mempunyai visi untuk menjadi pusat Islamic Economy ya..hehe). Pun dalam text book di perkuliahan jurusan ekonomi seluruh dunia, ada istilah ekonomi makro dan ekonomi mikro (anehnya saya tidak menemukan tuh ttg keuangan mikro dan makro).

Dari contoh di atas kita mengetahui, bahwa ekonomi dan keuangan memang dua makhluk yang berbeda. Ekonomi merupakan suatu aktifitas untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan keuangan adalah lebih condong ke arah pencatatan alat transaksi (uang) di buku-buku. Gampangnya seperti ini, jika ekonomi mempunyai nilai sosial yang dapat melibatkan seluruh individu, maka keuangan hanya mempunyai objek tunggal (yaitu : uang / money).

Karena mempunyai objek yang berbeda, maka segala hal yang berhubungan dengan masing-masing keduanya menjadi berbeda juga. Mulai dari kebijakan pemerintah terkait dan tujuannya, analisa para ahli, sudut pandang, kepentingan antar lembaga pemerintah maupun individu, sampai pada istilah2 seperti investasi, pasar, dan lain-lain. Perbedaan ini yang menyebabkan dikotomi antara ekonomi dan keuangan yang akhirnya membuat perekonomian suatu negara pincang dan tidak seimbang.

Apa penyebabnya kok bisa jadi tidak seimbang.?

Dalam ekonomi modern uang berfungsi sebagai satuan ukur, penyimpan nilai dan alat transaksi. Dengan uang, kita menilai harga 1Kg beras sama dengan Rp.10000. Jika ada 150Kg beras berarti uang yang dibutuhkan untuk menilainya adalah Rp. 1500000= (150 x 10000). Intinya, jumlah uang beredar harus sesuai dengan nilai perekonomian ril. Pada kenyataannya, hal itu sulit untuk dilakukan. Pertumbuhan keuangan dan ekonomi, perumpamaannya seperti deret ukur dan deret hitung. Keuangan selalu lebih berkembang daripada nilai perekonomian. Apalagi pada globalisasi seperti saat ini, modal asing dapat keluar-masuk negara dalam hitungan detik dan akhirnya dapat mengancam kestabilan ekonomi suatu negara.

Faktor lain yang menyebabkan ketidakseimbangan adalah karakter pasar keuangan (khususnya pasar modal) yang irrasional. Irrasional, karena perilaku para pelakunya lebih banyak berdasarkan pada pengaruh psikologi, bukan pada pertimbangan matang itung-itungan yang rasional. Contoh : ketika terjadi krisis eropa, pasar keuangan di kawasan itu hancur. Tapi mengapa hal itu  berimbas ke index pasar modal asia juga ? jawabannya karena investor asia lebih terpengaruh secara psikologi. Mereka takut saham yang mereka pegang harganya ikut jatuh. Akhirnya mereka rela menjual rugi saham mereka dan mereka merasa lebih aman jika memegang uang dolar secara cash.

Aksi jual saham oleh satu investor diikuti investor lain sehingga membuat panik pasar. Beramai-ramai mereka menjual mata uang lokal untuk mendapatkan dolar. Karena banyak demand terhadap dolar dalam negeri dan devisa negara tidak cukup besar, mata uang lokal menjadi terdepresiasi. Akhirnya nilai tukar menjadi tidak stabil sehingga hal itu mengurangi niat pengusaha menjual produknya ke luar negeri (ekspor). Belum lagi para spekulan yang menggunakan kesempatan ini untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari aksi jual-beli saham yang nilainya rontok tadi.

Lalu apa yang harus dilakukan agar ekonomi dan keuangan berjalan seimbang.?

Tentunya pemerintah dan bank sentral harus membuat kebijakan yang efektif untuk menyeimbangkan keduanya. Kebijakan moneter, fiskal, pasar modal, perbankan dan program pemberdayaan masyarakat. Semuanya berperan penting.

  1. Bank sentral bekerja sama dengan pemerintah dalam membuat regulasi tentang investasi asing di Indonesia, bagaimana caranya agar capital inflow dapat mengalir ke sektor ril.
  2. Pemberdayaan UMKM (Usaha mikro, kecil dan menengah) oleh pemerintah dengan program penyuluhan-penyuluhan. Karena sektor UMKM berkontribusi > 50% dari total GDP negara.
  3. Himbauan bank sentral kepada perbankan komersil untuk memudahkan akses kredit bagi UMKM.
  4. Pembenahan regulasi di pasar modal agar mempersempit peluang spekulan yang selalu ingin mengambil margin dari penjualan efek.
  5. Pembangunan dan perbaikan infrastuktur, agar investasi di sektor riel lebih menarik sehingga terjadi proses produksi.

Itulah beberapa kebijakan yang harus segera dibentuk untuk menyeimbangkan ekonomi dan keuangan. Bagaimanapun juga, keuangan tumbuh berdampingan dengan ekonomi. Pertumbuhan keduanya harus selaras karena tujuan asli dari keduanya adalah untuk menciptakan kesejahraan masyarakat.

4 responses to this post.

  1. Posted by fraulein kyu on December 25, 2011 at 7:45 am

    ” Ekonomi merupakan suatu aktifitas untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan keuangan adalah lebih condong ke arah pencatatan alat transaksi (uang) di buku-buku ”
    mmmm … sy rasa lebih tepat jika finance dikatakan sbgai pengelolaan uang .. bukan pencatatan uang (ini accounting namany) …

    he… i guess so ^^

    Reply

  2. Posted by fraulein kyu on December 25, 2011 at 5:34 pm

    tetapi itu hal berbeda, kim … keuangan itu pengelolaan … accounting baru pencatatan …………….. but, well, I just … it’s just a comment.

    Reply

  3. Misalnya, besarnya pertumbuhan ekonomi secara global atau secara sektoral tidak dikaitkan dengan alokasi belanja pada masing masing sektor.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: