Time


Venue  : Adisutjipto International Airport, Yogyakarta
Time    : April 25th, 2012  — 7 .57 A.M
Waktu menunjukkan jam 5.30 AM. Gw, ibu, bapak, dan mbah kakung siap berangkat dari rumah di Kuncen menuju Jogja mengantarkan dik Hafid yang akan berangkat umrah karena menang undian sebuah seminar. Perjalanan terasa lancar karena memang masih pagi, jalanan juga masih senggang. Oleh karenanya jarak Solo-Jogja yang sekitar 50KM itu dapat ditempuh satu jam. Pukul 6.30 AM sampailah kami di Bandara Adisucipto. Tentunya masih sangat pagi, tapi bandara sudah ramai dengan calon passenger dan keluarga mereka.
Sebelum check-in tiket (dan sambil menunggu Bude Ning yg juga ingin melepas kepergian adikku), dik Hafid mengenalkan kami sekeluarga pada temannya yang akan berangkat umrah juga. Ada sekitar enam orang, satu diantaranya seorang wanita. Ada yang masih muda, ada juga yang sudah berkeluarga. Tapi mereka tidak membedakan status tersebut, pembicaraan mereka terasa cair – mengalir seperti air. Batinku dalam hati : adikku selama ini berinteraksi dengan orang-orang lapangan yg super ini, pantas saja jika ia lebih suka praktek daripada teori (perkuliahan kampus).
 30 menit tak terasa berlalu. Jam menunjukkan pukul 7.00 AM. Dik Hafid dan teman- temannya harus segera melakukan check in. Tapi terjadi dilema karena Bude Ning belum juga datang. Mau tak mau harus ada trade off. Mengorbankan kepentingan seseorang atau kepentingan sekelompok orang lainnya. Sekali lagi, dik Hafid harus check in saat itu juga meninggalkan Bude  yg ingin bertemu. Sang waktu mungkin hanya akan beberbelas kasih dengan memberikan kesempatan untuk berbicara lewat handphone ketika dik Hafid berada dalam waiting room dan untuk melihat pesawat ketika take off pada detik-detik terakhir di ruang anjungan pengunjung, tidak dengan tatap muka.
Pesan dari postingan kali ini ialah bahwa waktu harus digunakan sebaik-baiknya, karena yang telah berlalu tidak akan kembali walaupun hanya satu detik. Terutama waktu kita bersama orang-orang yang kita cintai, itu harus lebih kita hargai. Soalnya tidak selamanya kita hidup bersama mereka. Banyak pribahasa/ungkapan yg mengiyakan bahwa waktu itu berharga. Seperti time is money, al-waqtu ka asy-syaifi in lam taqto’hu qata’uka, dan wal ashri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: