Da’wah Ekonomi Islam (Ekis), drmana Memulai ?


Beberapa waktu (malam ke-8 Ramadlan) lalu Ayahanda Syafi’i Antonio memberi wejangan / nasehat untuk mahasiswa akhir di Masjid Abdurrahman bin Auf, kampus STEI tazkia Darmaga. Beberapa acara beliau malam itu rela di cancel, hanya untuk memastikan bahwa angkatan 8 yang akan mendapat gelar S.Ei pada November depan tu adalah benar-benar anak didik beliau. Sudah seyogyanya hubungan bapak-anak diperkuat, agar ‘buah tidak jatuh jauh dari pohonnya’ (walaupun kelasku belum sama sekali diajar beliau).

Alhamdulillah, banyak sekali informasi yang sangat bermanfaat ku dapat dalam speech yang kira-kira memakan waktu dua jam itu. Mulai dari tips melamar pekerjaan di institusi keuangan syariah, beasiswa kuliah, rahasia usaha tanpa modal, entrepreneurship dan tentang Tazkia Global School (yang insyaallah akan dimulai setelah lebaran nanti). Pokoknya informasi yang nggak bakal ditemuin di textbook manapun. Beliau juga cerita sedikit banyak tentang lika-liku yang beliau alami dalam membangun Tazkia Group sepuluh tahun lalu. Singkat kata, ada empat jurusnya : 1. jangan malu mencari harta yang halal 2. sabar 3. hemat dan, 4.rendah hati. Intinya, “No shorcut to success”.

Nah, akhirnya tibalah sesi tanya jawab. Lagi-lagi temen ku yang bernama Ahmad Nashruddin bertanya, yang kira-kira intinya seperti ini : “Pak, bagaimana cara kita mensosialisasikan Ekonomi Islam kepada masyarakat. Di lingkungan saya sendiri, para ulama pondok pesantren masih mempercayai bahwa riba bank itu dapat di ‘maafkan’ “. Lalu Pak Syafi’i pun menjawab panjang, yang intinya kira-kira begini : “Da’wah Ekonomi Islam dengan tindakan & perbuatan itu lebih membekas pada mereka daripada kau menjelaskan dengan kata-kata. Ekonomi itu bukan keuangan, dan yang pertama lebih luas dari yang kedua.” Lalu beliau memberi contoh nyata dengan bercerita tentang keluarga dan saudara beliau. Bagaimana kerasnya usaha beliau menyakinkan keluarga dan saudara kandung beliau bahwa ekonomi (Islam) itu membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Batinku, “Good answer, tepat pada inti jawaban dr soal.”

Jelas sudah apa yang beliau katakan, “Berbuatlah sesuatu untuk membuktikan Ekonomi Islam lebih baik dari sistem ekonomi Ribawi yang berlaku saat ini.” Secara reflek aku ngaca ke diri sendiri, apa yang dapat ku perbuat untuk mendakwahkan Ekis ini ? Terlebih lagi dalam beberapa bulan lagi gelar S.Ei (Sarjana Ekonomi Islam) akan bertandang di belakang nama. Gelar yang seharusnya bisa dibanggakan, alih-alih malah bisa jadi beban moral karena belum punya rencana “berbuat untuk menda’wakan Ekis”.

Kata “berbuat” menurutku mengandung konskwensi dengan waktu lama (tidak instan). Artinya, jangan sekali-kali menginginkan hasil / tujuan dalam waktu yang singkat. Singkat kata harus ada proses, tidak lupa dengan usaha, doa dan tawakkal. Jangan lihat dirimu dan apa yang kau perbuat sekarang, tapi yakinlah akan ada hasil 15 tahun, 10 tahun bahkan lima thun mendatang. Sesederhana apapun rencana-mu setelah dapet S.Ei nanti, “lakoni bae” lah. Koneksi / relasi, pengalaman, profesionalisme dan kematangan mental akan tumbuh secara natural dengan berjalannya waktu. Maka ketika pada saat waktunya datang, kamu bukan hanya senang karena orang lain akhirnya dapat mengakui keberadaan Ekis, tapi juga kamu akan merasa sangat bahagia karena orang lain merasakan kesejahteraan riil (falah).

So now, what is your plan to socialice this Islamic Economic System ? *jawab di hati masing-masing yak.. ^^V

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: