Tragedi Sampang : Mengurai Segudang Persoalan di Negara Ini


Baru ja kemarin (Selasa) saya membaca reportase kasus Syiah Sampang oleh seorang wartawan di blog online pribadinya. Secara singkat, tulisan itu menceritakan perjalanannya ke daerah Sampang, Madura pd Januari silam untuk menggali informasi tentang tragedi rumah orang Syiah yg dibakar di daerah itu pada 29 Desember 2011 lalu. Well… saya menilai tulisan tersebut apa adanya, a must-read article, tidak menggurui siapapun, tidak men-judge sapa yg salah dan sapa yg benar (netral). Saya yakin para pembaca akan semakin bijak dalam memilih kata-kata dalam memberikan komentar / pendapat tentang kerusuhan yg terjadi di Sampang 26 Agustus 2012 lalu jika membaca artikel tersebut.

Saya tidak ingin me-review reportase tersebut karena pasti akan banyak pesan/inti/poin yang terlewat jika hal itu saya lakukan (mending baca langsung di sumber aslinya saja). Saya hanya ingin sharing opini pribadi tentang persoalan-persoalan yg sering terjadi di negara ini dengan apa yg saya pahami dari isi reportase kasus Syiah tersebut. Ya smoga ja bisa masukan solusi wat perbaikan kondisi bangsa ini.

Pertama, konflik antar suku. Negara yang berada pada urutan ke-4 dalam hal jumlah penduduk ini terdiri dari buaaanyak sekali suku-suku daerah dengan ratusan bahkan ribuan keberagaman dialek/bahasa dan puluhan kepercayaan/agama. Dari Sabang sampai Merauke, kebayang nggak tuh berapa banyak jumlah suku penduduknya. Keberagaman tersebut sangat rentan pada konflik. Suku A dan Suku B dapat dengan mudah diadudomba jika masing-masing suku masih mengedepankan ego dan gengsi, masih nganggep ‘Gue yang paling bener, org lain yg salah’. a.k.a belum bisa mentolerir pertimbangan dr pihak/golongan lain. Solusinya adalah penyuluhan ke masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang menyulut emosi massa.

Kedua, korusi. Budaya kita masih mewarisi mental patrimonial para birokrat penjajah dan kaum darah biru terdahulu. Patrimonial merupakan sebuah sistem bentukan hubungan dari sang “patron” atau induk dengan “client” atau anak buahnya. Dalam sistem ini sang patron bertindak protektif kepada sang client dengan harapan sang client nantinya dapat menjaga kekuasaan  atau hegemon sang “patron” (dgn memberi ‘upeti’, dukungan finansial dll kepada sang “patron”). Walaupun revolusi sudah genap 14 tahun, tetap saja budaya tersebut masih berlaku. Praktik dagang sapi antar parpol dan mahar pemilu, merupakan bentuk modern ‘upeti’ yg sulit dihilangkan sampai saat ini.

Ketiga, gila kedudukan (status sosial) dan harta. Ini masih ada hubungannya dengan mental patrimonial. Pemimpin kita masih banyak yang menjadikan jama’ah/golongan yang ia pimpin sebagai mesin penghasil uang. Seorang kiai A merasa terancam jika jamaahnya berkurang lantaran pindah ke majlis kiai B. Karena kiai A akan mengalami kekurangan jumlah ‘amplop’. Fungsi kiai sebagai rujukan umat tentang masalah agama berubah menjadi sebuah profesi. Akhirnya masing-masing kiai di suatu daerah rebutan pangsa pasar (jama’ah). Kalo tujuannya udah ‘uang’, walaupun dua kiai masih satu keluarga, pasti terjadi jotos2san. Akhirnya balik lagi ke masalah awal. Solusinya harus diluruskan lagi orientasi dan nilai-nilai dari aktivis seorang yang menyandang gelar ‘KIAI’.

Persoalan pertama, kedua dan ketiga sama-sama membutuhkan solusi yang lebih bersifat kultural, bukan struktural. Mengapa harus kultural ? karena penyebab tiga persoalan tersebut telah mengakar cukup dalam dan lama di masyarakat. Jadi solusinya juga harus yg bersifat jangka panjang, nggak bisa instan. Kultural itu berarti dengan pendekatan ke tokoh-tokoh masyarakat, penyuluhan, dan “menganggap” nilai-nilai positif yang berkembang. Jika struktural yg selalu dilakukan, maka malah akan terpental/sia-sia jadinya. Walopun begitu, pendekatan kultural dan struktural sama2 penting, hanya saja kadar prioritasnya yg berbeda dalam pelaksanaannya. Wallahu a’lam

One response to this post.

  1. sayang sekali penanganan konflik di Indonesia masih buruk..
    terkait ini saya sempat twit, silakan mampir jika berkenan:

    http://saif-fisip07.web.unair.ac.id/artikel_detail-60902-Esai%20Pribadi-Konflik%20SunniSyiah%20%28Insiden%20Sampang%29%20dari%20Perspektif%20Moderat%20%28bag%201%29.html

    thanks,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: