Tiga belas tahun lalu


Ketika itu (kalo nggak salah) usia gw sekitar sembilan ato sepuluh tahun. Bisa dibilang anak kecil, karena masih duduk di kelas tiga ato empat (gw nggak inget). Sebagaimana sifat anak kecil, gw waktu tu punya sifat curiousity (kepo) terhadap sesuatu yg pengen gw kepoin. Yah, itulah dunia anak-anak,,,unbounderies/tanpa batas, penuh imajinasi dan selalu ingin tau serta tak terkekang oleh kungkungan pikiran logis. Itulah sampe sekarang gw selalu iri setiap kali liat anak kecil yg ceria dan cepet kembali tertawa setelah mereka nangis, seakan-akan mereka berkata “hari ini milikmu, tersenyumlah — dunia akan tersenyum untukmu”. 
Hampir setiap siang setelah gw pulang sekolah, gw nimbrungin bokap yg lagi baca koran (Republika) di teras rumah. Menunggu beliau selesai dari aktivitas itu, lalu gw langsung samber tu koran tuk dibaca. Gtw knpa topik-topik pemberitaan di koran nggak da yang bisa menarik rasa keingintahuan gw lebih jauh, ntah tu topik politik, ekonomi, pendidikan, khazanah Islam dll. Padahal gw waktu tu dah bisa baca tulisan latin. Lembar per lembar gw baca, isinya gitu2 aja. Sampe lembar terakhir, gw nemuin redaksi pemberitaan dalam bentuk kolom-kolom. 
Gw gtw pasti apa judul kolom itu, tapi gw masih inget dgn jelas salah satu kolom tertulis “Pialang teraktif, Frekuensi, ,,,,,bla,bla,bla”. Bentuknya kira-kira sama dengan penulisan klasemen pertandingan Liga Inggris. Ketika itu gw pikir halaman terakhir Republika unik. Unik karena format dan isi halaman terakhir nggak pernah berubah, berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya. Tapi, tetep saja gw belum tau apa arti kolom-kolom dalam satu halaman penuh terakhir tu,,,, Semakin gw sering baca koran (dan menghampiri lembar akhirnya), semakin gw bertanya-tanya ttg apa arti kolom-kolom tu,,,
Rasa penasaran gw trnyata nggak selesai sampe disitu. Masih inget dulu ketika bokap nonton berita di TV, sering ada tulisan di sisi bawah (seperti iklan baris). Gw nggak inget tulisan apa yang tertera disitu. Yang gw tau disitu ada angka-angka dan tanda segitiga hijau normal dan segitiga merah terbalik. Hal ini ternyata jg mengusik rasa keingintahuan gw lebih jauh. Karena tiap kali bokap nonton berita, beliau juga mengajak gw “membaca kondisi dunia” — walopun pikiran gw waktu tu lom sampe kesana. 
Tanpa gw sadari, rasa kepo gw terhadap dua hal tersebut terakumulatif dari hari ke hari. Walopun begitu, pikiran gw tetep buntu, belum bs menemukan arti keduanya. Memank Sunnatullah, butuh waktu dan proses untuk menngetahui jawaban dr pertanyaan itu. Hingga akhirnya, lambat laun rasa keingintahuan itu hilang semenjak gw masuk pondok. Yah…enam tahun merupakan waktu yang sangat cukup tuk membuat rasa penasaran gw hilang (trhadap kedua hal tsb). 
“..di sisi lain tanpa disadari, seluruh jagad raya merekam rasa penasaran gw terhadap dua hal tsb”

Enam tahun kehidupan di pondok berlalu, begitu juga empat tahun masa-masa perkuliahan di Tazkia. Universe datang memberikan jawaban tentang pertanyaan yg dulu gw pendem (yg sama sekali terlupakan). 

Tanpa merupakan kebetulan, penelitian tugas akhir gw di kampus membahas tentang Indeks Pasar modal Syariah dan Konvensional. Dan sekarang, gw lagi jalanin pelatihan wat ambil license WPPE wat berkarir di Pasar modal Indonesia. Semua tanpa gw sadarii,,,

3 responses to this post.

  1. keren ih gan ..

    Reply

  2. mkasih sem, terinspirasi nulis postingan ini dari si nih🙂 http://goo.gl/q7cIR

    Reply

  3. haha, iya tulisan si mbah derma emang banyak yg menginspirasi.. :))

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: