Hak-Hak Wanita dalam Islam


Pembicaraan tentang wanita selalu menjadi fokus di setiap zaman. Dalam sejarah, makhluk Tuhan yang unik ini hampir selalu di’pojokkan’ hak-hak nya, seolah mereka tidak pernah mendapat ‘kehormatan’ untuk hidup; entah itu sejarah wanita pada masa Cina kuno, Mesir kuno, Jawa kuno, Yunani kuno dan kerajaan-kerajaan Romawi terdahulu. Hal itu terjadi karena kepercayaan masyarakat setempat yang menganggap lawan jenis wanita (laki-laki) adalah sebagai titisan dewa, Tuhan dan malaikat yang harus dipatuhi tanpa kata ‘tidak’ sama sekali.

Nah, pada abad belakangan ini ada paham yang sangat vokal dalam menyamakan hak-hak wanita dengan hak-hak laki-laki, seperti Feminisme dan Kesetaraan Gender. Kedua paham itu seolah-olah menjadi pahlawan bagi wanita untuk bangkit dari paradigma ‘penjajahan laki-laki’. Beberapa golongan menerima paham ini mentah-mentah karena mereka anggap baik. Mereka lupa bahwa jauh sebelum kedua paham itu muncul, Islam telah melindungi hak-hak wanita dan memberikan ruang gerak yang relevan bagi mereka sesuai dengan fitrahnya.

Berikut ini adalah ayat dari Qur’an bagaimana mestinya memperlakukan para wanita berdasarkan hak-hak mereka :

  • Surat An-Nisa’ ayat 1 (Asal Penciptaan Wanita)

….. وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ….

    Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan makhluknya (manusia) dari satu jiwa, yaitu Adam. Dan daripadanya Allah menciptakan istrinya.” Yaitu Hawa
yang diciptakan dari tulang rusuk Adam bagian kiri dari belakang, pada saat Adam tidur. Ketika ia sadar dari tidurnya, dan melihat hawa yang cukup menakjubkan, maka muncullah rasa cinta dan kasih sayang diantara keduanya. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dinyatakan :

“Wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika dipaksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Jika engkau bersenang-senang denganya, maka bersenang-senanglah dengannya, namun padanya tetap ada kebengkokan.”

Intinya : Janganlah seseorang memperlakukan mereka dengan keras, karena itu akan menyakiti mereka. Tetapi pakailah kekuatan sugesti dan prilaku yang lemah lembut. Kalian tidak bisa melawan mereka. Kalian hanya bisa menuntun mereka.

  • Surat An-Nisa’ ayat 11 (Hak Wanita dalam Warisan)

    يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ….

        Firman Allah SWT Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian waris untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” Yakni, Allah memerintahkan kalian untuk berbuat adil. Dahulu, orang-orang jahiliyah memberikan seluruh harta warisan hanya untuk laki-laki, tidak untuk wanita. Maka Allah memerintahkan kesamaan di antara mereka dalam hal sama-sama menjadi ahli waris, dan membedakan bagian yang diperoleh di antara dua jenis tersebut, dimana bagian laki-laki sama dengan dua bagian perempuan. Hal itu disebabkan karena laki-laki bertanggungjawab atas nafkah, kebutuhan, serta beban perdagangan, juga usaha dan risiko tanggungjawab. Maka tepatlah jika ia diberikan bagian dua kali lipat daripada bagian kaum wanita.

  • Surat Al-Baqarah ayat 282 (Derajat Wanita dalam Persaksian)

 وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ

    Firman Allah, Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari laki-laki (diantaramu).”
Ini
adalah perintah untuk memberikan kesaksian disertai penulisan untuk menambahkan validitasnya (kekuatannya).
Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan.” Hal itu hanya berlaku pada perkara yang menyangkut harta dan segala yang diperhitungkan sebagai kekayaan. Ditempatkan dua orang wanita sama dengan kedudukan seorang laki-laki karena lemahnya akal kaum wanita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, dari Abu hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wahai kaum wanita, bershadaqahlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena aku melihat kebanyakan penghuni Neraka adalah kalian.” Salah seorang wanita bertubuh besar bertanya: “Mengapa kebanyakan dari kami sebagai penghuni neraka?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak melaknat dan tidak bersyukur kepada suami. Aku tidak melihat orang-orang yang lemah akal dan agamanya yang lebih dapat menaklukkan seorang lelaki yang berakal dibanding kalian.” Wanita itu menjawab: “Apa yang dimaksud dengan lemah akal dan agama?” Beliau menjawab: “Adapun yang dimaksud dengan lemah akal adalah kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian seorang laki-laki, yang demikian itu termasuk lemah akalnya. Dan kalian berdiam diri selama beberapa malam, tidak mengerjjakan shalat dan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan (karena haid dan nifas). Dan hal itu termasuk dari kekurangan agama.”

  • Surat An-Nisa’ ayat 129 (Derajat Wanita dalam Poligami)

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ

Firman Allah, Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” Artinya, wahai sekalian manusia, kalian tidak akan mampu untuk berlaku adil di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Sekalipun kalian telah memberikan giliran malam yang sama kepada mereka, namun kalian pasti berbeda dalam rasa cinta, syahwat dan jima’. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ubaidah as-Salmani, Mujahid, al-Hasan al-Bashri dan adh-Dhahhak bin Muzahim.

  • Surat Al-Baqarah ayat 231 (Hak Wanita dalam Perceraian)

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

    Ayat ini memerintahkan kaum laki-laki yang menceraikan istrinya dengan talak raj’i untuk menyelesaikan urusan ini dengan baik. Maksudnya, jangan sampai proses penceraian itu menyebabkan adanya permusuhan, pertengkaran dan saling menjelekkan.

    Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Masruq, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Hayyan dan yang lainnya mengatakan: “Dahulu ada seseorang lelaki mentalak istrinya. Maka jika masa ‘iddahnya hampir habis, ia merujuknya untuk memberikan mudharat kepadanya. Agar ia tidak pergi kepada laki-laki lain. Kemudian ia mentalaknya kembali dan si istri menjalani masa ‘iddahnya. Apabila masa ‘iddahnya telah hampir selesai, ia merujuknya kembali lalu mentalaknya lagi agar masa ‘iddahnya bertambah panjang. Maka Allah melarang mereka dari perbuatan tersebut. Dan mengancam mereka atas hal itu. Allah Ta’ala berfirman, Barang siapa berbuat demikian, maka sesungguhnya ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri,” dengan melanggar perintah Allah.

  • Surat Al-Baqarah ayat 223 (Hak-Hak Wanita dalam Reproduksi)

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ ..

Ayat ini menerangkan bahwa boleh hukumnya mendatangi (mencampuri) istri sekehendak hati, baik dari arah depan, maupun dari arah belakang, asalkan tetap melalui satu jalan (yaitu kemaluan), sebagaimana telah ditegaskan dalam banyak hadits.

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnul Munkadir, ia menceritakan bahwa ia pernah mendengar Jabir mengatakan: “Dulu, orang-orang Yahudi mengatakan, ‘Jika seorang suami mencampuri istrinya dari belakang, maka akan lahir anak bermata juling.’ Maka turunlah ayat, ‘istri-istrimu adalah (seperti) lahan tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah lahan tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.'”

Imam Ahmad, meriwayatkan dari Khuzaimah bin Tsabit al-Khathami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak malu untuk menerangkan kebenaran (diucapkan beliau sebanyak tiga kali). Janganlah menyutubuhi wanita pada dubur mereka.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa-I dan Ibnu Majah.

  • Surat Al-Ahzab ayat 33 (Peran Publik untuk Wanita)

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” Maksudnya, “Berdiamlah wahai istri-istri nabi di rumah-rumah kalian. Jangan sekali-kali kalian keluar rumah tanpa ada satu kebutuhan.” Di antara kebutuhan syar’I yang membolehkan para wanita keluar rumah adalah melaksanakan shalat di masjid dengan syarat-syarat tertentu (yang dijelaskan dalam ilmu fiqh). Hal ini seperti diungkapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan untuk mendatangi masjid Allah. Dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian (berhias).” HR.Abu Dawud.

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.” Mujahid berkata, “Dahulu para wanita keluar berjalan di tengah-tengah kaum laki-laki. Yang demikian itu disebut sebagai perilaku orang-orang jahiliyah dahulu.” Saat menafsirkan firman Allah; “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah terdahulu.” Qatadah berkata, “Yakni, apabila kalian keluar rumah. Dimana mereka dahulu (apabila keluar rumah) suka berjalan lenggak-lenggok, lemah gemulai dan manja. Maka allah melarang itu semua.

  • Surat An-Nisa’ ayat 34 (Hak Wanita dalam Berpolitik)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” Maksudnya, laki-laki adalah yang menegakkan (bertanggungjawab) kaum wanita, dalam arti pemimpin, kepala, hakim, dan pendidik para wanita ketika mereka menyimpang, “Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” Maksudnya, karena laki-laki itu lebih utama daripada wanita, dan lebih baik dari mereka. Karena itu pula, kenabian hanya dikhususkan untuk laki-laki. Begitu pula pemimpin Negara dan jabatan kehakiman, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka.” HR.Bukhari.

“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” Yaitu berupa mahar, nafkah, dan berbagai tanggungjawab yang diwajibkan Allah kepada mereka dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Maka, laki-laki lebih utama dari wanita dalam hal jiwanya. Laki-laki pun memiliki keutamaan dan kelebihan lain, sehingga tepat untuk menjadi penanggungjawab atas wanita, sebagaimana firman Allah “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 228).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: