Potret bangsaku


Barusan gw nonton acara full Mata Najwa di Youtube. Kebetulan tema yang dibawa adalah tentang bagaimana menggandakan inspirasi. Dalam acara ini, lima tamu yang dianggap spesial hadir. Sebut saja kang Abraham Samad, om Ganjar, mas Anies Baswedan, pakde Jokowi dan mbah Jusuf Kalla. Gw nggak tau percis kapan acara ini berlangsung live. Satu yang gw tau secara pasti, acara ini berlangsung di Auditorium UNS, Universitas Negeri Surakarta – bisa juga disebut dengan Universitas Sebelas Maret.

Seperti acara-acara (semacam) interview lainnya, Najwa Syihab sebagai host memulai perbincangan dengan menampilkan profil masing-masing tamu. Menampilkan hal-hal unik tentang background kehidupan mereka, di rumah, pengalaman masalalu, dan hal-hal yang secara kontinyu mereka lakukan sehingga mereka terbentuk dengan karakter masing-masing seperti yang masyarakat liat sekarang. Setelah itu, host memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan yang bisa menimbulkan tawa bagi para audience dan para tamu itu sendiri tentunya, serta pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan di tahun 2014. Yeah, as we know, tahun 2014 kan tahun politik, kebetulan aja diantara lima tamu yang diundang ada yang bekerja sebagai pejabat publik, bahkan ada yang ‘dianggap’ berpotensi jadi calon presiden RI 2014-2019.

Selesai doblong depan video yang berlangsung selama kurang lebih 60 menit tersebut, jujur gw menilai kalo tu acara cuma ajang buat humor dan ketawa-ketiwi. Membicarakan hal-hal yang gw anggap hanya sebatas ‘kulit’, sama sekali tak menyentuh isi/gist/inti. Dalam video itu, host lebih banyak menggiring audience dan tamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kental dengan isu-isu korupsi dan politik, padahal judul awalnya kan tentang inspirasi. Host bertanya, “Masing-masing dari kelima bapak-bapak ini, jika boleh memilih, akan memilih siapa untuk menjadi pasangan Capres/cawapres dari kelima tamu?”. Dan kelima tamu menjawab dengan gayanya masing-masing.

Isi acara nggak full tentang inspirasi, tapi lebih mengarah ke pembicaraan politik – dan itu sah sah aja. MetroTV sebagai salah satu stasiun TV swasta, punya tujuan sama persis dengan stasiun TV lainnya, yaitu mencari rating tinggi. Sudah diperkirakan sejak awal, mengundang lima tamu ‘WOW’ bakal menyedot perhatian para manusia ‘haus inspirasi’. Artinya, semakin banyak yang menonton, semakin tinggi rating stasiunTV. Semakin tinggi rating, semakin banyak perusahaan yang memasang iklan disitu. Akhirnya, stasiunTV dapet duit banyak dong. Well, itulah cara media-media di negeri ini mencari duit. Itulah alur/jalan yang harus mereka tempuh.

Gw disini nggak menilai ini salah, ini bener. Gw cuma bilang bahwa beginilah kondisi indonesia sekarang. Acara apapun yang sering tampak di TV, itu merupakan cermin masyarakatnya. Jelas sudah, stasiun TV negara ini banyak menayangkan acara gosip, acara hal-hal berbau mistis/magic atau hal-hal yang membuat penonton penasaran-sulap dll. Tak juga ketinggalan sinetron bersambung, sinetron harian, berita-berita bernada negatif – pembunuhan, demo, pemerkosaan, kecelakaan, korupsi, perselingkuhan dan segudang kebusukan negeri ini. Semua acara itu didesain untuk menyerap perhatian penonton. Sekali lagi, untuk mengejar rating. Jarang sekali ada stasiun TV yang memutar acara pendidikan, atau pemberitaan tentang prestasi-prestasi baik putra bangsa ini. Why? karena tidak ada demand tentang hal-hal itu. Nggak ada demand, berarti nggak bakal ada supply. It’s simply like economic’s demand-supply theory.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: