Perjalanan spiritual part II


Tulisan kali ini terinspirasi dari suasana di Masjidil Haram, pusat peribadatan Muslim seluruh dunia. beberapa hari tinggal di kota Makkah ini, aku menemukan Muslim dari berbagai macam daerah, golongan, madzhab, negara dll. Yang ku tahu fokus mereka hanya satu, tiap kali azan berkumandang, mereka akan bergegas pergi ke Masjid. Melarutkan suasana di masjid tersebut, meninggalkan transaksi jual beli dan kesibukan lainnya.

Mereka tak pernah serius mempersalahkan pakaian dan tingkah laku Muslim lain. Mereka hanya fokus pada ibadah masing-masing, membayangkan diri mereka berhadapan langsung berhadapan dengan Allah SWT, Tuhan semesta alam. Mengadukan segala apa yang terpendam di hati, uneg-uneg, dan cita-cita masing-masing. Tak ada waktu dan kesempatan untuk membicarakan ‘kejelekan’ orang lain, gosip, dll.

Masing-masing orang disini bisa dibilang meng’klaim’ dirinya benar, tanpa harus/perlu meminta pengakuan dari orang lain bahwa dirinya benar. Tiap-tiap orang disini tidak ingin dianggap eksis oleh manusia karena mereka tau dan paham bahwa yang baik disisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa. Mereka juga paham bahwa tidak ada manfaatnya jika mereka mempersoalkan perbedaan pakaian dan rupa si A. Daripada sibuk mikirin penampilan orang lain, mereka lebih fokus menata hati masing-masing.

Berkenaan dengan ini, teringat perkataan Imam Malik RA, “Aku tidak melihat penduduk Madinah bersalah. Ketika mereka membicarakan kesalahan orang lain, maka mereka menjadi bersalah.” Artinya, fokus pada hal-hal yang salah adalah merupakan kesalahan itu sendiri. Apabila kau menemukan orang lain berbuat salah, maka tunjukkanlah bagaimana kebenaran itu. Bukan malah menjelek-jelekkan orang tersebut dengan kesalahan yang telah ia perbuat. Rujuklah Alquran dan Sunnah untuk mengklaim benar salahnya perbuatan seseorang. Tapi ingatlah, selalu pergunakan dan jangan lupakan akhlaq ketika mengingatkan orang lain.

Tirulah akhlaq Rosulullah SAW ketika mengingatkan orang lain. Itu lebih bermanfaat daripada lebih mengedepankan emosi. Jagalah hati / ditoto dulu sebelum hendak mengkafirkan orang lain. Seseorang bisa saja menghukumi si A karena perbuatannya, tetapi Allah SWT lebih mengetahui isi hatinya dan alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Maka, bersikap bijaklah. Jangan cepet-cepet mutung.

Allah SWT pun lantas tidak hanya menjadikan rumah-Nya khusus bagi para ahli ibadah. Juga banyak dari pengunjung Baitullah mereka yang sebelumnya merupakan pendosa. Bahkan Allah SWT bisa saja memberi rahmat-Nya pada pendosa itu lantaran ketulusan mereka meminta ampunan-Nya. Waallahu a’lam bishawab

Makkah, 17 Jan 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: