Perjalanan Spiritual part III


Orang umum bilang “jangan ikut-ikutan arus, karena itu tandanya nggak punya prinsip”. Beberapa orang percaya dengan pribahasa ini, dan beberapa lainnya menyangkal dengan tanpa alasan. Tapi secara pribadi aku fifty-fifty lah tentang ungkapan tersebut..hehe. Ini berdasarkan pengalamanku di Masjidil Haram.

Hari Jum’at ini aku senang sekali karena bisa sholat Maghrib tepat dibelakang imam, pas depan Ka’bah. Hal itu terjadi secara nggak sengaja. Ceritanya, setelah sholat Asar rencananya aku pengen thawaf. Nah, putaran thawaf ke-7 tuh pas banget jam menunjukkan pukul 17.30 yang berarti akan segera dilaksanakan sholat Maghrib. Beberapa orang tampak dengan segera membentuk shof di sisi-sisi Ka’bah – antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani, dan antara Rukun Yamani dan Hijr Ismail.

Dan ketika itu, aku sama sekali tidak ada rencana untuk sholat tepat depan Ka’bah, karena arus orang-orang yang melaksanakan thawaf masih sangat deras. Ternyata dugaanku salah. Aku terbawa arus para thawafer ke arah depan pintu Ka’bah. Kebetulan disitu juga ada orang-orang yang sedang membentuk shaf, tanpa pikir panjang aku ikutan masuk ke dalam shaf dan melaksanakan sholat Maghrib di shaf ke-3 tepat belakng imam. (Shaf 1 dan 2 hanya diisi oleh Syeihk-syeikh Masjidil Haram dan beberapa pembesar kerajaan Saudi Arabia).

Tak hanya berhenti disitu, setelah sholat Maghrib berlangsung banyak banged orang-orang yang langsung ke arah Hajar Aswad dan Multazam. Dua tempat yang tempatnya cukup berdekatan di salah satu sisi Ka’bah. Tiba-tiba aku berinisiatif untuk mendekatkan diri ke Multazam dan tak terasa kaki ini berjalan kearahnya. Tanpa menghiraukan desakan orang-orang, aku terus berusaha ke tempat dimana doa dikabulkan menurut hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Sebesar-besarnya usahaku mendekatkan diri ke Multazam, hanya tanganku yang dapat meraihnya. Lebih afdolnya sih kalo pipi dan dada bisa mendekap ke Multazam. Tapi tak apa. Momen-momen itu kugunakan sebaik-baiknya untuk berdoa wat kebaikan diri sendiri, keluarga, lingkungan, guru-guru, teman-teman dan umat Muslim secara keseluruhan.

Desakan para thowafer sangat kuat. Aku tak bisa melawan. Satu-satunya yang bisa dilakukan ketika itu ya ngikutin arus. Secara kebetulan, arus membawaku ke kiri melawan arah thawaf. Dari Multazam ke Hajar Aswad. Subhanalloh,,tak terasa hati ini mengagungkan nama-Nya. Akhirnya aku berada tepat depan Hajar Aswad. Kugunakan kesempatan itu baik-baik untuk cium batu hitam yang dulu jatoh dari surga itu. Alhamdulillah. Lalu tanpa sadar aku terhempas keluar arus thawaf, menepi kepinggir di bawah ring, dan mengambil posisi lurus ke arah Multazam tuk sholat sunnah dua rokaat dan berdoa.

Jum’at ini berasa berkah banged, bisa melakukan sesuatu yang mungkin nggak semua pengunjung Baitullah punya kesempatan tuk melakukannya. Aku merasa kalo Allah memberikan rahmat-Nya lebih padaku hari ini.

Dari kejadian hari ini aku mencoba mengambil hikmah. Ya…walopun ini penilaian dari diri sendiri dan untuk diri diri sendiri. HATI, that’s it. Apapun kondisi dan jabatan serta kedudukan kita dalam masyarakat, jagalah selalu hati. Selalu sucikanlah hati, karena Allah tahu betul apa yang ada dalam hati kita. “Wallahu ya’lamu bidzaati ash-shudur”. Kalo hati dan niat dah bersih, in syaa Allah akan mengabulkan keingingan / apa yang terdetik di hatimu tanpa kamu bersusah payah / kemrungsung mengejarnya. Allah punya seribu cara untuk mendatangkan ‘sesuatu’ tersebut padamu, asal hatimu bersih.🙂

Makkah, 17 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: