Tentang Ilmu (1)


Beberapa soalan yang mungkin bisa dijadikan bahan refleksi untuk mereka yang berstatus sebagai penuntut ilmu, guru pendidik dan kalangan umum.

  1. Apakah definisi ‘ilmu’?
  2. Apakah konsep ilmu yang selama ini diajarkan ke putra putri didik, para penuntut ilmu tersebut, sudah benar?
  3. Apa akibat yang akan timbul jika ternyata jabawan pertanyaan no 2 ternyata benar atau salah?
  4. Kenapa para terdakwa korupsi justeru ramai dari kalangan orang-orang berpendidikan tinggi/berilmu?
  5. Jika ilmu lebih berharga daripada harta, mengapa di masa sekarang ini orang-orang yang mengejar harta lebih ramai daripada mereka yang menuntut ilmu?

Perbincangan tentang ilmu sudah dibahas jauh kebelakang sejak peradaban manusia terdahulu, dari yang terekam misalnya Yunani kuno, India, Cina, Mesir, sampai peradaban Islam yang terus berlanjut ke peradaban Eropa (Latin). Secara ontologi, ilmu itu ada (exist). Namun ketika manusia berusaha mencapai ilmu itulah, persoalan epistemologi muncul; dalam artian bahwa, dikarenakan perbedaaan sistem metafisika pada tiap-tiap peradaban, maka konsep ilmu yang dihasilkan oleh masing-masing peradaban tadi pun akan berbeda jua.

Pertentangan konsep ilmu antara peradaban satu dengan peradaban lainnya, sebenarnya tidak menimbulkan permasalahan apapun, karena memang ranah pertentangan itu bertempat hanya di alam pikiran manusia. Permasalahan hanya akan muncul ketika sesuatu yang bersifat konseptual itu diterjemahkan/direalisasikan dalam dunia ril/kehidupan sehari-hari. Contoh: Masyarakat Barat menganggap perbuatan sex, asalkan dilakukan atas dasar suka sama suka, adalah dibenarkan. Berbeda dengan pandangan seorang Muslim yang mempercayai bahwa tindakan itu tidak diperbolehkan karena ia dihukumi haram. Pertentangan kedua faham awalnya tidak bermasalah, tetapi apabila faham itu diterjemahkan ke dalam bentuk dasar-dasar suatu negara, misalnya, maka barulah nyata persoalan itu. Rancangan undang-undang, idealnya, harus mengakomodir kedua kepentingan kedua pihak (Barat & Muslim) secara proporsional. Tapi hal ini nggak mungkin terjadi, karena memang masing-masing dari kedua pihak sama-sama hidup berdampingan di negara yang satu dan masing-masing akan mengusahakan ‘ideologi’nya diakui secara konstitusional, massive dan universal.

Kembali ke topik pembahasan, ilmu. Jika ada yang bertanya apa yang menjadikan ilmu itu penting untuk dibahas? Maka jabawannya adalah karena hanya berdasarkan ilmu lah sesuatu dihukumi baik atau buruk; karena hanya berdasarkan ilmu lah pemerintah menentukan kebijakan; dan karena hanya berdasarkan ilmu lah seseorang menentukan keputusannya dalam setiap tindakannya. Dalam bahasa lain, dan konskwensi logisnya, bisa dikatakan; bahwa siapa yang berkuasa dalam penyebaran ilmu dan berhasil meng-infus-kan nya ke orang lain, maka ia diam-diam sedang menginstal ‘software’ pada pikiran manusia yang mana dengannya manusia tadi akan menjadikan ‘software’ itu sebagai framework-nya dalam menentukan tindakannya sehari-hari.

Nah, bidang pendidikan (terutama yang bersifat negeri) adalah posisi yang strategis dalam kegiatan penyebaran ilmu, kerena nantinya ia akan dikukuhkan melalui undang-undang negara dan peraturan menteri, serta diperkenalkan secara masif ke berbagai institusi pendidikan seluruh daerah mulai dari tingkat sekolah dasar hingga universitas. Homeschooling, pondok pesantren, yang mayoritas masih bersifat private ownership, relatif tidak lumayan strategis dalam penyebaran ilmu dibandingkan institusi yang bersifat negeri tadi, karena memang tipe yang kedua ini lebih kecil dalam hal cakupannya, dan beberapa juga lebih terbatas dalam hal keadaan financial support, fasilitas dan promosinya. Oleh karena itu, siapa-siapa (antara Barat & Islam) yang berhasil menyebarkan konsep-nya tentang ilmu melalui institusi pendidikan negeri, maka ia telah menang satu langkah. Tetapi, apakah bisa dibilang bahawa ilmu yang disebar melalui institusi pendidikan negeri itu benar (mengingat pertanyaan ini berbuhungan dgn pertanyaan nomor 4 di atas)?. Jika jawabannya benar atau salah, persoalan selanjutnya adalah, konsep ilmu menurut siapakah yang sekarang ini ‘menunggangi’ institusi pendidikan negeri kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: