STEI Tazkia Soft Launching Pusat Studi Kitab Klasik Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — STEI Tazkia mengadakan seminar pemikiran ekonomi Islam dengan judul ‘Rethingking our Conception of Working: An Insight from al-Syaibani’s Kitab al-Kasb’ dan soft launching Pusat Studi Kitab Klasik Islami (Puski) STEI Tazkia. Dalam acara ini, STEI Tazkia menghadirkan Muhammad Hanif al-Hakim SEI MPhil yang merupakan alumni angkatan ke-8 STEI Tazkia dan juga alumni S2 di bidang Filsafat dan Pemikiran Islam di CASIS-UTM.

Direktur Puski Nurizal Ismail MA mengatakan, Puski ini sangat penting dalam menjembatani karya-karya ulama Muslim dalam lintasan sejarah Islam khususnya di bidang ekonomi Islam, seperti al-kharaj, al-amwal, dan al-kasb, menuju masa kontemporer ini. Mengutip hadist yang diriwayatkan Abu Daud dari Abu Darda, dia mengatakan, ulama adalah pewaris para Nabi.

“Adapun yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu, maka sudah sepatutnya kita para penggiat ekonomi Islam mempelajari ilmu-ilmu ulama yang tertulis dalam kitab-kitabnya yang monumental. Harapan dari pusat ini adalah memberikan kontrsibusi yang signifikan untuk pengembangan ekonomi islam di Indonesia dan dunia,” kata Nurizal dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Ahad (7/1).

Rektor STEI Tazkia Dr Murniati Mukhlisin mengungkapkan, Puski ini menjadi unggulan dan sangat diharapkan kemunculan untuk memperkuat epistemologi ilmu ekonomi Islam saat  ini. Perlu adanya integrasi keilmuwan dari hulu (kitab-kitab turast) ke hilir (buku-buku modern). Menurutnya, ilmu yang ada dalam kitab-kitab turast itu mahal karena tidak semua orang dapat membaca kitab, tidak semua orang yang punya waktu dapat membacanya dan ada orang yang bisa membacanya tetapi tidak mempunyai waktu.

Ïni harus menjadi kekuatan islamisasi ekonomi dan keuangan di STEI Tazkia,” kata Murniati. Hal ini selaras dengan pertanyataan Prof Dr Abu Hamid Sulayman, rektor pertama International Islamic University of Malaysia (IIUM) dan penerus ide-ide Islamisasi Faruqi, bahwa Islamisasi yang ideal adalah asalah wal mua’sirah, yaitu kembali kepada akar ilmu Islam dan diaplikasikan pada masa kontemporer.

Sementara Hanif nara sumber dalam seminar memberikan testemoni awal tentang al-Syaibani. Kitab karya al-Syaibani al-kasb ditulis di abad ke-2 Hijriyah. Al-Syaibani merupakan murid dari Imam Abu Hanifah dan Abu Yusuf, dan juga sekaligus guru dari Imam Syafi’I, pendiri dari Mazhab Syafi’i.

Menurut Hanif, konsep kerja Barat hanya memfokuskan kepada angka-angka atau sesuatu yang terukur, tetapi tidak berbicara secara mendalam tentang falsafah dan sifat dari kerja itu sendiri. “Adapun konteks kitab al-kasb itu adalah untuk membawa kita kembali bagaimana ketika kita mencari nafkah yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam,” katanya.

Kenapa al-kasb lebih tepat diterjemahkan dengan mencari nafkah? Ini, kata dia, karena tujuan mencari kekayaan adalah untuk dinafkahkan. Sehingga, kata al-kasb dan al-infaq selalu disandingkan dalam beberapa ayat Alquran misalnya dalam surat al-Baqarah ayat 268:” Hai orang-orang beriman, nafkahkanlah (nafkah) sebagian dari hasil usahamu (kasaba) yang baik-baik dan sebagian dari apa yg Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

Dikatakan Hanis, ada eberapa poin ide-ide al-Syaibani dalam kitabnya. Pertama, mencari nafkah (kasb) sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah dengan cara mencari rizki (rizq) dan penghidupan (ma’asyi). Kedua, tingkatan al-kasb bermula dari tujuan al-kasb adalah untuk menegakkan tulang punggungnya (dirinya sendiri) sebagai suatu yang fardhu ‘ain, supaya dapat menjalankan kewajiban-kewajibannya seperti shalat dengan sempurna.

Selanjutnya, apabila seorang memiliki hutang, maka dia harus bekerja atau mencari nafkah agar dapat membayar hutangnya jika tidak mempunyai warisan dari pendahulunya. Kemudian, apabila seorang memiliki keluarga atau orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka dia bekerja menjadi fardu kifayah untuk memenuhi keperluan mereka.

Adapun apabila memilik orang tua yang masih hidup maka bekerja untuk memenuhi keperluan keduanya menjadi fardu kifayah juga. Terakhir, disunnah kepada seseorang yang telah dapat memenuhi tingkatan sebelumnya untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk kerabat-kerabatnya sebagai bentuk bentuk silaturrahmi.

Ketiga, bahwa al-kasb memiliki arti saling tolong menolong (Mu’awanah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan ketaatannya kepada-Nya. Karena itu, Hanif mengatakan, dalam mencari nafkah itu bukanlah dengan menghimpun kekayaan yang tanpa batasan. “Tapi, semua aktivitas pencarian nafkah harus mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala,” ucapnya.

 

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/01/07/p26x4q396-stei-tazkia-soft-launching-pusat-studi-kitab-klasik-islam

Advertisements

Bekerja Bagian dari Keuangan Keluarga Syariah | Sakinah Finance

Oleh : Dr. Murniati Mukhlisin M.Acc
Konsultan Sakinah Finance/Ketua STEI Tazkia

Kali ini Sakinah Finance belajar membuka kitab – kitab klasik karangan ulama Muslim di zaman dahulu. Walaupun saat ini kita berada di dalam kehidupan modern namun pandangan klasik ini masih sangat relevan. Latar belakang penulis kitab-kitab klasik ini bukan main luar biasa, kebanyakannya penghafal Al-Qur’an yang mendukung kebaikan dan memerangi kemaksiatan yang tercermin jelas dari karya – karyanya.

Salah satu rujukan kita kali ini adalah Kitab Al-Kasb yang didefinisikan sebagai kegiatan bekerja karangan Abu Abdullah Muhammad bin Al-Hasan bin Farqad Jazariya Asy-Syaibani (132H/748M – 189H/804M). Ulama yang dikenal dengan sebutan Imam Asy-Syaibani ini hidup di akhir masa Bani Umawiyyah dan di awal masa Bani Abbasiyah. Beliau yang sudah menghafal Al-Qur’an sejak kecil ini berguru langsung dengan ulama besar, Abu Hanifah penggagas Mazhab Hanafi yang dianut sebagian ummat Islam hingga saat ini, juga menjadi muridnya Abu Yusuf seorang ahli fiqih dan ekonomi.

Konsep bekerja
Konsep bekerja dalam konteks Islam harus selalu berorientasi ibadah. Hal ini telah diperintahkan Allah SWT yaitu: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-zariyat (51): 56). Maka dari itu penting sekali bagi kita untuk menanamkan niat sebelum menjalankan sebuah pekerjaan dengan niat ibadah, yaitu mengharap ridho Allah.

Tentu saja kita harus yakin bahwa hasil bekerja itu akan mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Anjuran ini ada dalam Al-Qur’an yang menjadi salah satu doa yang kerap dibaca ummat Islam: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah (2): 201).

Alasan, jenis dan tujuan bekerja
Dalam kitab Al-Kasb dijelaskan mengapa kita perlu bekerja adalah karena perintah Allah SWT supaya kita bertebar di muka bumi untuk mencari karunia Allah (QS Al-Jumuah (62): 10 dan agar kita membantu orang lain dari hasil kita yang baik-baik (QS Al-Baqarah (2): 267. Bekerja untuk memperoleh harta yang halal (kasb) adalah juga bertujuan agar dapat membedakan mana yang halal dan yang haram.

Sedangkan jenis – jenis pekerjaan yang baik adalah pertanian, manufaktur dan jasa yang mana bidang pertanian ditegaskan oleh Asy-Syaibani sebagai jenis pekerjaan yang paling penting. Hal ini karena menentukan penyediaan makanan dimana sudah menjadi hajat hidup orang banyak dan pendorong roda ekonomi secara umum.

Adapun tujuan bekerja ada beberapa level yaitu; untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri, melunasi utang, memberi nafkah istri dan anak, memenuhi kebutuhan dasar orangtua, membantu sanak saudara, dan memperhatikan lingkungan sekitar.

As-Syaibani juga menekankan bahwa dalam memenuhi tujuan bekerja itu kita harus bersikap zuhud atau tidak haus kepada kebutuhan dunia, tidak isyraf atau berlebih-lebihan dan menjauhi sifat tabdzir atau pemboros atas hal – hal yang tidak perlu.

Lesson learnt
Pelajaran kita hari ini adalah bekerja adalah ibadah dan merupakan kewajiban baik itu sebagai seorang individu untuk menghidupi dirinya sendiri, kepala rumah tangga bagi istri dan anak – anaknya, anak yang berbakti kepada orangtua dan keluarga serta anggota sosial kemasyarakatan.

Ternyata bekerja dalam konteks Islam tidak bertujuan akhir agar harta bertumpuk melainkan hanya sebagai media (wasilah) untuk senantiasa berbuat amal sholeh dan dekat kepada Allah.

Dalam konteks negara, bidang pertanian perlu dijadikan fokus utama secara berkesinambungan. Hingga saat ini Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dengan dibuktikan bahwa sebanyak 39,68 juta penduduk Indonesia bekerja di bidang pertanian. Artinya ada 31,86 persen dari jumlah penduduk bekerja yang jumlahnya 124,54 juta orang seperti yang disampaikan oleh Kepala BPS Suhariyanto, 5 Mei 2017 yang lalu (bisnis.tempo.co).

Diharapkan upah buru tani makin baik dari yang sebelumnya, misalnya bulan Oktober 2017, upah nominal harian buruh tani nasional adalah sebesar Rp. 50.339 naik dari Rp. 50.213 di bulan Oktober (Badan Pusat Statistik, 2018). Begitu juga lulusan Institut Pertanian Bogor agar dapat lebih banyak berkiprah sebagai ahli dalam bidang pertanian dan lebih bagus lagi jika mampu mengaitkannya dengan akselarasi sektor keuangan syariah.

Dengan kemajuan e-commerce dan FinTech, beberapa komunitas sudah merespon supaya sektor pertanian Indonesia ini dibangun lebih baik lagi. Misalnya sudah tumbuh startup seperti iGrow, Eragano, 8Villages, SayurBox, Simbah, Pantau Harga, Karsa, Kecipir, TaniHub, Limakilo, Sikumis, Crowde, CI-Agriculture, Habibi Garden, PanenID, Nyayur, RegoPantes, Kandagin, Tumbasin, TaniFund, Vestifarm, Angon, Karapan.

Tentu saja sangat tepat sekali jika Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia bersama-sama membina para startup ini. Hal ini adalah supaya dapat menjangkau para petani dan hasil tani di daerah terpencil dengan tata kelola yang baik yang pada akhrinya dapat meningkatkan swasembada pangan dan ekspor hasil pertanian.

Ada banyak lagi kitab – kitab klasik yang dapat dipelajari oleh para keluarga untuk memastikan manajemen keuangan keluarganya menjadi lebih berorientasi syariah. Tentu saja para pembuat kebijakan dapat merujuk kitab – kitab klasik ini untuk meluruskan  kebijakan negara supaya senantiasa berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia dengan sistem berkeadilan.

Sakinah Finance berterima kasih kepada dua orang alumni STEI Tazkia; Muhammad Hanif al-Hakim dan Nurizal Ismail atas paparannya mengenai kitab al-Kasb di Pusat Studi Kitab Klasik Islami-STEI Tazkia pekan lalu.

Demikian pesan As-Syaibani ini disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bis-shawaab. Salam Sakinah!

Source:

https://tazkia.ac.id/2018/01/22/bekerja-bagian-dari-keuangan-keluarga-syariah/ 

Bekerja Bagian dari Keuangan Keluarga Syariah | Sakinah Finance

 

Catatan Kecil Perkuliahan Kemarin

Dalam kelas Epistemologi Islam Selasa lalu, saya membagi waktu perkuliahan menjadi dua bagian. Pertengahan pertama dialokasikan untuk penjelasan materi, dan pertengahan kedua untuk presentasi tugas para mahasiswa. Kebetulan kali ini tugas yang diberikan kepada mereka adalah membuat 5 poin dari file mp3 (kira2 berdurasi 1.5 jam). File tersebut merupakan rekaman sharing session tentang konsep ilmu dalam Islam.

Maka setelah penjelasan materi usai, saya pilih dua mahasiswa untuk maju kedepan kelas menjelaskan lima poin yang mereka tangkap dari file mp3 tadi. Mereka pun maju, dengan catatan secukupnya ditangan, menjelaskan apa yang mereka fahami dari rekaman tersebut. Setelah mahasiswa kedua selesai memaparkan penjelasannya, salah seorang mahasiswa  sontak bertanya kepada temannya yang berada depan kelas tadi: ‘Mengapa ada banyak orang berilmu, menduduki jabatan tinggi di pemerintahan, memiliki harta berlimpah, tapi masih senang melakukan korupsi & mengkriminalisasi Ulama?’

Dua mahasiswa depan kelas tadi mencoba menjawab, namun temannya yang bertanya tadi tak menunjukkan raut muka senang tanda tak puas dengan jawaban tersebut. Sayapun tergerak untuk membantu memberikan jawaban yang pas. Dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan dan pemahaman epistemologi islam mereka yang bisa dibilang pemula, saya berupaya untuk menjelaskan kepada mereka tentang potensi jawabannya secara sederhana. Saya katakan bahwa ilmu & pendidikan tinggi saja tidak cukup untuk menjamin status akhlak seseorang menjadi baik, terlebih2 di masa ini ketika virus kebingungan akan ilmu (confusion of knowledge) banyak mnjangkiti Umat Muslim. Oleh karena itu, selain ‘ilmu’, seseorang juga harus memerlukan yang namanya ‘hidayah’.

Untuk menjelaskan hubungan ilmu & hidayah, saya menyebut nama seorang saintis, fisikawan terkemuka dunia, Stephen Hawking. Semua orang, beragama maupun tak beragama, tak meragukan kecerdasan Hawking dan otoritas keilmuannya dalam ilmu fisika. Seluruh dunia mengagumi perjalanan hidup, karir akademik dan dan prestasi sejagad saintis ini. Kekaguman mereka tercermin dengan hadirnya film yang menceritakan perjalanan kehidupannya berjudul The Theory of Everything pada tahun 2014 lalu. Namun, satu hal yang perlu dicatat, bahwa setinggi2nya ilmu Hawking dalam disiplin fisika, ia tetaplah seorang yang malang. Malang karena alih2 membawanya pada Tuhan, ilmu itu malah menyeretnya jauh menafikan kewujudan Tuhan.

Kemudian saya pun menceritakan bahawa dulunya disertasi S3 Hawking pernah membuktikan secara matematik bahawa alam semesta yang berada dalam dimensi ruang dan waktu ini  mempunyai permulaan. Apabila alam mempunyai permulaan, berarti ia tidak abadi, yang berarti juga bahwa alam itu diciptakan. Kalau alam diciptakan, berarti ada yang namanya pencipta. Dan penciptanya itu, tidak lain adalah Tuhan. Tapi sayangnya, penemuan disertasi S3 nya itu malah dinafikan dan dianggap falsified oleh hasil penelitian2 berikutnya. Walhasil, diapun semakin jauh dari keyakinan tentang keberadaan Tuhan.

Lebih jauh tentang itu semua, pada hakikatnya ilmu fisika hanyalah ilmu yang beroperasi dalam ranah Alam Syahadah (alam yang kasat mata). Tuhan yang merupakan realitas dalam alam Ghaib, tentu mustahil dijamah dengan ilmu2 yang membahas tentang hal-hal yang berwujud fisik (kasat mata). Dzat Tuhan yang Maha Mulia hanya bisa dijamah lewat Ilmu Metafisik, dan itu berarti Stephen harus mengakui keberadaan realitas hal2 gaib, sebelum dia bisa menerima keberadaan Tuhan, atau sebelum dia bisa ‘menemukan’ Tuhan. Tapi sayang, filsafat Positivist yang menjadi dasar ilmu fisikanya itu, kadung menjadi ‘kacamata’ baginya dalam memandang segala kewujudan yang ada ini. Akibatnya, Tuhan pun hilang dari alam pikiran, dan hidayah pun enggan tuk datang. Akhir sekali, asumsi Hawking tentang ketiadaan Tuhan itu tetap dibawa sampai ujung hidupnya pada 14 Maret 2018, sehari setelah namanya disebut dalam kelas Epistemologi Islam pada 13 Maret 2018.

ISLAM NUSANTARA: ANALISIS SEDERHANA LOGIKA BAHASA

Beberapa pekan ini, media massa di Tanah Air dihebohkan dengan isu kontroversial seputar penamaan Islam Nusantara (IN), yang menarik perhatian para kaum intelektual dan cendekiawan beberapa institusi pendidikan ternama, khususnya pendidikan agama, di Indonesia. Kononnya, satu pihak tertentu mendukung penuh gerakan IN tersebut, sedangkan pihak lainnya menolaknya. Tentu setiap pihak berusaha memberikan argumen yang menyakinkan (convincing) para pembaca akan pendapatnya. Bahkan terkadang, untuk mengokohkan pendapat masing-masing, mereka menggunakan istilah yang bombastis, agar audiens menjadi terperangah dan menjadi jinak walhasil mengiyakan opini yang sedang dibangun tersebut. Terlepas dari pro dan kontra mengenainya, tulisan singkat ini sedapat mungkin menghindari perdebatan yang sedang berlangsung dengan sekedar membedah istilah Islam Nusantara tersebut dengan pisau aturan bahasa.

 

Kata Majemuk Dalam Tata Bahasa Asing dan Indonesia.

Dalam tata bahasa Arab, dua kalimat yang yang bergandengan secara paralel bisa dikategorikan menjadi dua: Yang Pertama Muḍāf Muḍaf Ilayh (MMI), yaitu ketika kata benda konkrit ataupun abstrak bergandengan dengan kata benda lain, yang mana gabungan tersebut mengisyaratkan satu makna dari tiga ‘tempat, asal atau bagian, dan kepemilikan). Yang Kedua Na‘t wa Man‘ūt (NM), yaitu ketika kata benda konkrit ataupun abstrak mertemu dengan kata sifat. Contoh kasus dari MMI: jāmi‘ah al-Azhar (yang berarti, lembaga pendidikan di Masjid al-Azhar); niṣf al-sā‘ah (yang berarti, setengah dari satu jam atau 30 menit); dan ṣifāt Allāh (yang berarti, sifat sifat Allah atau sifat-sifat milik Allah). Adapun contoh kasus dari NM: al-masjid al-kabīr (yang berarti, masjid besar atau masjid yang besar); al-qirṭās al-abyaḍ (yang berarti, kertas putih atau kertas yang putih); dan lain sebagainya.

Kedua kategori di atas (MMI dan NM) juga terdapat dalam tata bahasa Inggris. Contoh MMI versi Inggris: University of London (yang berarti, Universitas London atau sebuah universitas di kota London); people of Chinese (yang berarti, orang Cina atau orang yang berasal dari negeri Cina); dan friend of mine (yang berarti, teman saya atau teman milik saya). Contoh NM dalam bahasa Inggris: red pen (yang berarti, pena merah atau pena yang berwarna merah), long way (yang berarti, jalan panjang atau jalan yang panjang); dan lain sebagainya. Perbedaan yang mencolok antara kedua MMI dan NM adalah pengkhususan penggunaan kata ‘yang’ untuk NM, bukan untuk MMI. Karena makna akan menjadi ambigu apabila kata ‘yang’ digunakan untuk MMI. Contoh: frasa kurat al-qadam lebih akurat diterjemahkan sebagai ‘bola kaki’, bukan ‘bola yang kaki’, karena frasa itu termasuk dalam katagori MMI.

Praktik penerapan MMI dan NM di dalam bahasa Indonesia bisa menjadi masalah bagi para pengguna bahasa, apabila mereka tidak mengenali apalagi tak acuh terhadap tata bahasa ibu khususnya tentang MMI dan NM. Terlebih lagi dengan populasi negeri yang semakin meningkat saban tahun, kadang frasa-frasa baru yang diartikulasi oleh pihak-pihak yang tidak berautoriti dalam bidang bahasa, bisa jadi membingungkan yang lain sehingga dalam jangka panjang bisa merusak tatanan bahasa Indonesia. Misalnya, beberapa makna gabungan dua kata bisa berubah makna secara sebagian bahkan total, baik dalam MMI ataupun NM.

Contoh perubahan makna sebagian dalam MMI, nasi kucing. Disebut nasi kucing karena porsi nasi dianggap cukup untuk seekor kucing, bukan lantaran karena nasi itu milik seekor kucing dan berasal dari kucing. Adapun contoh perubahan makna secara total dalam MMI, kutu buku. Maksud dari kutu buku adalah penggemar buku, dengan membacanya sehingga menjadi familiar dengan buku-buku, bukan karena ada hewan kutu yang menempati, berasal, atau memiliki buku tertentu. Contoh perubahan makna sebagian dalam NM, tanggal merah, yang berarti hari libur. Adapun contoh perubahan makna secara total dalam NM, emas hitam. Disebut emas hitam bukan karena emas itu berwarna hitam, bukan pula karena benda yang disifati ‘warna hitam’ itu adalah logam mulia emas. Emas hitam adalah sebutan untuk barang tambang minyak. Lantaran berharganya harga minyak, maka ia disamakan dengan emas.

Islam Nusantara = Islam + Nusantara ?

Untuk mengetahui apakah frasa ‘Islam Nusantara’ termasuk katagori MMI atau NM, seyogianya kita mengetahui terlebih dahulu definisi tiap kata dalam frasa tersebut. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w sebagai petunjuk bagi seluruh manusia di alam ini. Nusantara adalah kepulauan di alam Melayu yang terbagi menjadi Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina dan Thailand, pada era kontemporer. Kata ‘Islam’ di sini adalah kata benda abstrak karena ia berupa konsep, sedangkan kata ‘Nusantara’ adalah kata benda konkrit karena itu berwujud tempat.

Jika demikian maka, gabungan kedua kata (benda) tersebut termasuk dalam katagori MMI sehingga penulisan yang tepat bukanlah ‘Islam Nusantara’, bukan juga ‘Islam milik Nusantara’, dan juga bukan ‘Islam asal Nusantara’, melainkan ‘Islam di Nusantara’. Contoh frasa lain yang juga menggandengkan kata ‘Nusantara’, sebut saja ‘Masakan Nusantara’ (lebih tepat di sebut Masakan Asal Nusantara); ‘Kerajaan Nusantara’ (lebih tepat disebut Kerajaan di Nusantara); dan ‘Adat dan Pakaian Nusantara’ (lebih tepat disebut ‘Adat dan Pakaian asal Nusantara’).

Frasa ‘Islam Nusantara’ tidak bisa dikatagorikan sebagai NM, karena kata ‘Nusantara’ bukanlah kata sifat yang dengannya kata benda abstrak ataupun konkrit bisa disifati. Akal yang normal tentunya akan menerima hal ini. Lalu jika ada seseorang yang menamakan dan memodelkan Agama Islam dengan frasa ‘Islam Nusantara’ lantaran menyakini bahwa Islam dibawa ke Nusantara ini dengan pendekatan mutawassiṭ yaitu dengan pendekatan budaya, tidak kaku dan keras, toleransi dan inklusif, apakah orang itu ingin mengidentikkan kata ‘Nusantara’ dengan kata ‘Mutawassiṭ’? jika ya, maka kata ‘Nusantara’ yang tergabung dengan kata ‘Makanan’, ‘Kerajaan’, ‘Adat dan Pakaian’ di atas juga bisa ditukar dengan kata ‘Mutawassiṭ’.

Andaikan kita terima pengidentikan kata ‘Nusantara’ dengan kata ‘Mutawassiṭ’, maka frasa ‘Islam Nusantara’ berubah dari katagori MMI ke NM, yang kemudian penulisan yang paling tepat untuknya adalah ‘Islam yang Nusantara’. Atau apabila akal kita sulit menerima, bisalah kita ganti ekspresi tersebut menjadi ‘Islam yang Mutawassiṭ’. Apakah sampai di sini permasalahan telah selesai? Tidak. Karena akal yang normal tentu akan terganggu apabila kata ‘Makanan’, ‘Kerajaan’, ‘Adat dan Pakaian’ bisa juga disifati dengan kata ‘mutawassiṭ’, sehingga menjadi ‘Makanan yang mutawassiṭ’, ‘Kerajaan yang mutawassiṭ’, dan ‘Adat dan Pakaian yang mutawassiṭ’.

Kesimpulan

Jadi, istilah Islam Nusantara itu sendiri masih perlu didiskusikan kembali apakah ia sudah valid dari segi linguistik, sistem alur berfikir, dan fakta sejarah. Perlu, karena penggunaan istilah ‘liar’ semacam ini selain bisa menyesatkan cara berfikir masyarakat awam, juga bisa membuat rusak tatanan bahasa Indonesia secara perlahan yang sebenarnya bisa dicegah lebih dini. Wallahu a’lam.

Tentang Ilmu (1)

Beberapa soalan yang mungkin bisa dijadikan bahan refleksi untuk mereka yang berstatus sebagai penuntut ilmu, guru pendidik dan kalangan umum.

  1. Apakah definisi ‘ilmu’?
  2. Apakah konsep ilmu yang selama ini diajarkan ke putra putri didik, para penuntut ilmu tersebut, sudah benar?
  3. Apa akibat yang akan timbul jika ternyata jabawan pertanyaan no 2 ternyata benar atau salah?
  4. Kenapa para terdakwa korupsi justeru ramai dari kalangan orang-orang berpendidikan tinggi/berilmu?
  5. Jika ilmu lebih berharga daripada harta, mengapa di masa sekarang ini orang-orang yang mengejar harta lebih ramai daripada mereka yang menuntut ilmu?

Perbincangan tentang ilmu sudah dibahas jauh kebelakang sejak peradaban manusia terdahulu, dari yang terekam misalnya Yunani kuno, India, Cina, Mesir, sampai peradaban Islam yang terus berlanjut ke peradaban Eropa (Latin). Secara ontologi, ilmu itu ada (exist). Namun ketika manusia berusaha mencapai ilmu itulah, persoalan epistemologi muncul; dalam artian bahwa, dikarenakan perbedaaan sistem metafisika pada tiap-tiap peradaban, maka konsep ilmu yang dihasilkan oleh masing-masing peradaban tadi pun akan berbeda jua.

Pertentangan konsep ilmu antara peradaban satu dengan peradaban lainnya, sebenarnya tidak menimbulkan permasalahan apapun, karena memang ranah pertentangan itu bertempat hanya di alam pikiran manusia. Permasalahan hanya akan muncul ketika sesuatu yang bersifat konseptual itu diterjemahkan/direalisasikan dalam dunia ril/kehidupan sehari-hari. Contoh: Masyarakat Barat menganggap perbuatan sex, asalkan dilakukan atas dasar suka sama suka, adalah dibenarkan. Berbeda dengan pandangan seorang Muslim yang mempercayai bahwa tindakan itu tidak diperbolehkan karena ia dihukumi haram. Pertentangan kedua faham awalnya tidak bermasalah, tetapi apabila faham itu diterjemahkan ke dalam bentuk dasar-dasar suatu negara, misalnya, maka barulah nyata persoalan itu. Rancangan undang-undang, idealnya, harus mengakomodir kedua kepentingan kedua pihak (Barat & Muslim) secara proporsional. Tapi hal ini nggak mungkin terjadi, karena memang masing-masing dari kedua pihak sama-sama hidup berdampingan di negara yang satu dan masing-masing akan mengusahakan ‘ideologi’nya diakui secara konstitusional, massive dan universal.

Kembali ke topik pembahasan, ilmu. Jika ada yang bertanya apa yang menjadikan ilmu itu penting untuk dibahas? Maka jabawannya adalah karena hanya berdasarkan ilmu lah sesuatu dihukumi baik atau buruk; karena hanya berdasarkan ilmu lah pemerintah menentukan kebijakan; dan karena hanya berdasarkan ilmu lah seseorang menentukan keputusannya dalam setiap tindakannya. Dalam bahasa lain, dan konskwensi logisnya, bisa dikatakan; bahwa siapa yang berkuasa dalam penyebaran ilmu dan berhasil meng-infus-kan nya ke orang lain, maka ia diam-diam sedang menginstal ‘software’ pada pikiran manusia yang mana dengannya manusia tadi akan menjadikan ‘software’ itu sebagai framework-nya dalam menentukan tindakannya sehari-hari.

Nah, bidang pendidikan (terutama yang bersifat negeri) adalah posisi yang strategis dalam kegiatan penyebaran ilmu, kerena nantinya ia akan dikukuhkan melalui undang-undang negara dan peraturan menteri, serta diperkenalkan secara masif ke berbagai institusi pendidikan seluruh daerah mulai dari tingkat sekolah dasar hingga universitas. Homeschooling, pondok pesantren, yang mayoritas masih bersifat private ownership, relatif tidak lumayan strategis dalam penyebaran ilmu dibandingkan institusi yang bersifat negeri tadi, karena memang tipe yang kedua ini lebih kecil dalam hal cakupannya, dan beberapa juga lebih terbatas dalam hal keadaan financial support, fasilitas dan promosinya. Oleh karena itu, siapa-siapa (antara Barat & Islam) yang berhasil menyebarkan konsep-nya tentang ilmu melalui institusi pendidikan negeri, maka ia telah menang satu langkah. Tetapi, apakah bisa dibilang bahawa ilmu yang disebar melalui institusi pendidikan negeri itu benar (mengingat pertanyaan ini berbuhungan dgn pertanyaan nomor 4 di atas)?. Jika jawabannya benar atau salah, persoalan selanjutnya adalah, konsep ilmu menurut siapakah yang sekarang ini ‘menunggangi’ institusi pendidikan negeri kita?